Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                  Medan,    April 2021

VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA MANGROVE DI KELURAHAN MANGUNHARJO, KECAMATAN TUGU, KOTA SEMARANG

Dosen Penanggung Jawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Disusun Oleh :

Rizky Wahyudi

191201129

HUT 4A



 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat kasih dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dengan baik. Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Valuasi Ekonomi Sumberdaya Mangrove di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang” ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. karena telah memberikan materi dengan baik dan benar. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi laporan ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

 

 

 

                                    Medan, April 2021

 

                                              Penulis

 


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hutan mangrove merupakan sumberdaya alam yang penting di lingkungan pesisir, dan memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi fisik, biologis, dan ekonomis (Romimotarto, 2001). Fungsi fisik adalah sebagai penahan angin, penyaring bahan pencemar, penahan ombak, pengendali banjir dan pencegah intrusi air laut ke daratan. Fungsi biologis adalah sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah asuhan (nursery ground), dan sebagai daerah mencari makan (feeding ground) bagi ikan dan biota laut lainnya. Fungsi ekonomis adalah sebagai penghasil kayu untuk bahan baku dan bahan bangunan, bahan makanan dan obat-obatan. Selain itu, fungsi tersebut adalah strategis sebagai produsen primer yang mampu mendukung dan menstabilkan ekosistem laut maupun daratan.

Kegiatan eksploitasi yang berlebihan dan alih fungsi hutan mangrove mengakibatkan degradasi kawasan hutan mangrove yang ditunjukkan secara nyata dengan semakin berkurangnya luasan hutan mangrove. Degradasi hutan mangrove mengakibatkan terjadinya perubahan ekosistem kawasan pantai, seperti intrusi air laut, abrasi pantai, punahnya beberapa jenis flora, fauna dan biota tertentu, menurunnya keanekaragaman hayati serta kerusakan habitat yang meluas sampai daratan (Saparinto, 2007).

Kelurahan Mangunharjo adalah salah satu wilayah pesisir di Kota Semarang yang terletak di Kecamatan Tugu, dengan panjang pantai 3,5 km dari Sungai Bringin sampai dengan Sungai Plumbon. Dulunya merupakan kawasan mangrove seluas ± 30 Ha. Namun, sejak terjadinya kerusakan lingkungan yang dimulai tahun 1998, telah hilang 11 Ha hutan mangrove karena terkena abrasi gelombang laut dan sebagian juga telah dikonversi untuk budidaya udang windu pada saat itu, kemudian abrasi begitu cepat sehingga pada akhir tahun 2010 sudah melenyapkan 161 Ha tambak penduduk, maka secara pasti petani tambak kehilangan mata pencaharian. Luas areal hutan mangrove di Kelurahan Mangunharjo diperkirakan 7,22 Ha (RTRP Kota Semarang, 2008).

Mengingat masih rendahnya penghargaan masyarakat terhadap potensi hutan mangrove sebagai aset ekonomi, maka perlu dilakukan penilaian (valuasi) ekonomi sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo, sehingga dengan penelitian ini dapat diketahui besarnya manfaat dan fungsi hutan mangrove baik itu manfaat secara ekonomi maupun manfaat ekologi.

Kegiatan eksploitasi yang berlebihan dan alih fungsi hutan mangrove mengakibatkan degradasi kawasan hutan mangrove yang ditunjukkan secara nyata dengan semakin berkurangnya luasan hutan mangrove. Degradasi hutan mangrove mengakibatkan terjadinya perubahan

            Hutan sebagai salah satu sumber daya alam adalah kekayaan negara yang harus dikelola secara bijaksana guna kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Inventarisasi hutan didefinisikan sebagai pengumpulan dan penyusunan data dan fakta mengenai sumberdaya hutan untuk perencanaan pengelolaan sumberdaya tersebut bagi kesejahteraan masyarakat secara lestari dan sebaguna. Hutan memiliki  peranan penting terhadap keberlangsungan hidup makhluk hidup, tanpanya kehidupan akan sulit untuk dilakukan. Inventarisasi hutan dilakukan untuk mengetahui kondisi biofisik sumberdaya hutan baik yang berupa flora, fauna maupun keadaan fisik lapangan, serta kondisi sosial ekonomi dari areal atau kawasan hutan yang diinventarisasi.

Sumberdaya hutan (SDH) menghasilkan manfaat yang menyeluruh baik manfaat tangible maupun manfaat intangible.Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan tersebut masih dinilai rendah, atau belum diketahui, sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi manfaat-manfaat yang telah dikenal dari SDH secara berlebihan. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami konsep nilai dari berbagai manfaat SDH secara komperehensif, khususnya untuk manfaat intangible yang tidak memiliki harga pasar.Untuk memahami manfaat dari SDH tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan SDH ini.Berbagai teknik dan metode penilaian ekonomi sumberdaya alam (SDA) telah dikembangkan untuk menghitung nilai ekonomi SDA yang memiliki harga pasar ataupun tidak. 

Penelitian ini bertujuan untuk:

1.    Mengidentifikasi pemanfaatan sumberdaya mangrove oleh masyarakat lokal di Kelurahan Mangunharjo.

2.    Menganalisis valuasi ekonomi total (TEV) dari sumberdaya mangrove setelah dikonversi menjadi tambak di Kelurahan Mangunharjo.

3.    Menganalisis nilai manfaat dari sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo.

 

 

PEMBAHASAN

 

1.    Jenis manfaat sumberdaya mangrove

Jenis manfaat dan fungsi sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo, pada saat ini dapat dikelompokkan ke dalam 4 kategori manfaat, yaitu:

 

A.  Manfaat langsung (ML)

Pemanfaatan sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo oleh masyarakat saat ini cukup beragam, dapat diidentifikasi beberapa manfaat sumberdaya mangrove yang secara langsung dirasakan oleh masyarakat antara lain yaitu: (1) pemanfaatan perikanan tangkap (ikan belanak), (2) pemanfaatan perikanan budidaya (tambak bandeng dan udang windu), (3) pemanfaatan bibit bakau, dan (4) pemanfaatan buah mangrove.

Berdasarkan analisis manfaat biaya dari setiap jenis manfaat tersebut, akhirnya nilai total manfaat langsung (ML) sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo pada saat ini (seluas 7,1 Ha) dihitung sebesar Rp29.065.000 per Ha per tahun atau Rp465.739.500,00 per tahun (Tabel 1).

B.  Manfaat tidak langsung (MTL)

Manfaat ini meliputi: (1) manfaat ekologis sebagai penahan abrasi pantai (2) manfaat biologis sebagai tempat pembesaran ikan (nursery ground). Pendekatan penilaiannya adalah dengan metode penggantian.

1.    Nilai manfaat ekologis sebagai penahan abrasi pantai (manfaat fisik) yang diestimasi melalui replacement cost dari pembangunan sabuk pantai (green belt), diacu dari estimasi yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah Tahun 1990, yaitu bahwa harga pemecah ombak (groin) ukuran 1 m x 10 m x 2 m dengan daya tahan 10 tahun.

Tabel 1. Rekapitulasi Jenis dan Nilai Manfaat Langsung Sumberdaya Mangrove di Kelurahan Magunharjo Tahun 2011

No.

Jenis Manfaat

Nilai Manfaat

(Rp per Ha per tahun)

Biaya

Biaya Total

(Rp)

Manfaat Bersih

(Rp per Ha per tahun)

Persentase (%)

Investasi

(Rp)

Operasional

(Rp)

1.

Ikan Belanak

28.800.000

6.600.000

1.500.000

8.100.000

20.700.000

71,22

2.

Tambak Silvofishery

(Bandeng dan

Udang Windu)

15.090.000

7.000.000

4.270.000

11.270.000

 

3.820.000

 

13,14

3.

Bibit Bakau

8.800.000

2.500.000

2.175.000

4.675.000

4.125.000

14,19

4.

Buah

1.020.000

350.000

250.000

600.000

420.000

1,45

Jumlah

53.710.000

16.450.000

8,195.000

24.645.000

29.065.000

100,00

 

sebesar Rp2.500.000,00. Panjang pantai di Kelurahan Mangunharjo 3,5 km atau 3500 m, maka biaya pembuatan pemecah ombak (groin) daya tahan 10 tahun seluruhnya adalah sebesar Rp8.750.000.000,00. Nilai tersebut dibagi dengan 10 untuk mendapatkan nilai per tahun. Dengan demikian, nilai manfaat ekologis sumberdaya mangrove sebagai penahan abrasi pantai adalah Rp875.000.000,00 per tahun Dengan demikian, nilai manfaat ekologis sumberdaya mangrove sebagai penahan abrasi pantai adalah Rp875.000.000,00 per tahun atau Rp123.239.437,00 per ha per tahun.

2.    Nilai manfaat biologis sebagai tempat pembesaran ikan (nursery ground) melalui pendekatan produktivitas (productivity approach). Produksi perikanan laut oleh nelayan di Kelurahan Mangunharjo pada tahun 2010 senilai Rp17.000.000,00, sehingga produksi per Ha luas mangrove sebesar Rp2.394.366,00.

Total manfaat tidak langsung sumberdaya mangrove dari manfaat ekologis dan biologis adalah sebesar Rp125.633.803,00 per Ha per tahun atau Rp892.000.000,00 per tahun.

 

C.  Manfaat pilihan (MP)

Nilai manfaat ini didekati dengan menggunakan nilai dari keanekaragaman hayati (biodiversity).

Nilai keanekaragaman hayati (biodiversity) hutan mangrove di Indonesia, yaitu US $ 1.500 per km² per tahun atau US $ 15 per Ha per tahun (Ruitenbeek, 1998 dalam Supriyadi 2009). Dengan nilai kurs Rupiah terhadap Dollar pada saat penelitian sebesar Rp8.560,00 (12 Agustus 2011), maka nilai manfaat pilihan sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo pada saat ini adalah  Rp128.400,00 per Ha per tahun atau nilai total manfaat pilihan sebesar Rp911.640,00 per tahun.

D.  Manfaat eksistensi (ME)

 Berdasarkan pendekatan penilaian dengan menggunakan Contingent Valuation Method (CVM) terhadap 50 responden, dapat diketahui bahwa nilai manfaat eksistensi (keberadaan) sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo adalah sebesar Rp5.652.958,00 per Ha per tahun atau nilai manfaat eksistensi total Rp40.136.000,00 per tahun.

E.  Nilai ekonomi total (TEV) sumberdaya mangrove

Nilai ini didasarkan pada hasil identifikasi seluruh jenis manfaat dari sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo, kemudian dilakukan perhitungan terhadap seluruh nilai manfaat tersebut. Rekapitulasi hasil estimasi seluruh manfaat sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Nilai Ekonomi Total Sumberdaya Mangrove di Kelurahan Mangunharjo Tahun 2011

No.

Kategori Manfaat

Nilai Manfaat

(Rp per Ha per tahun)

Nilai Manfaat

(Rp per tahun)

Persentase

(%)

1.

Manfaat Langsung

29.065.000

465.739.500

33,30

2.

Manfaat Tidak Langsung

125.633.803

892.000.000

63,77

3.

Manfaat Pilihan

128.400

911.640

0,07

4.

Manfaat Keberadaan

5.652.958

40.136.000

2,87

Total

160.480.161

1.398.787.140

100,00

Sumber: Hasil Penelitian, 2011

Manfaat tersebut terdiri dari manfaat langsung (ML), manfaat tidak langsung (MTL), manfaat pilihan (MP), dan manfaat keberadaan atau eksistensi (ME). Nilai ekonomi total (NET) sumberdaya mangrove merupakan hasil penjumlahan dari ke-4 jenis manfaat tersebut Pada Tabel 2 terlihat bahwa nilai ekonomi total dari sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo seluas 7,1 Ha sebesar Rp1.398.787.140,00 per tahun atau Rp160.480.161,00 per Ha per tahun. Dari nilai ekonomi total tersebut diketahui bahwa manfaat tidak langsung menunjukkan nilai tertinggi yaitu sebesar 63,77%, disusul manfaat langsung yang dapat langsung dirasakan oleh masyarakat sebesar 33,30% pada  urutan kedua. Kemudian manfaat keberadaan pada urutan ketiga, yaitu sebesar 2,87%, dan manfaat pilihan sebesar 0,07% berada pada urutan terakhir.

Nilai ekonomi total tersebut mengindikasikan bahwa sumberdaya alam dan lingkungan memerlukan penghargaan yang lebih tinggi dan memang menjadi dasar informasi secara kuantitatif untuk menentukan berbagai pilihan kebijakan, baik kebijakan fiskal maupun moneter, penyesuaian struktural dan upaya stabilisasi, karena mempunyai dampak terhadap sektor yang bergantung pada sumberdaya alam.

Penelitian serupa yang dilakukan Paryono, et al. (1999) di Segara Anakan Cilacap mendapatkan nilai total ekonomi hutan mangrove sebesar Rp140.880.427.700 per tahun atau rata-rata Rp8.188.980,00 per Ha per tahun. Sementara itu Maedar (2008) yang melakukan penelitian di Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka mendapatkan nilai total ekonomi hutan mangrove sebesar Rp101.502.012.572 per tahun. Adanya  perbedaan nilai ekonomi yang terjadi pada masing-masing peneliti yang sejenis, antara lain disebabkan karena perubahan nilai tukar rupiah terhadap US$, perbedaan harga dan karakteristik atau ciri khas masing-masing kawasan hutan mangrove dan keanekaragaman pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat.

Berdasarkan nilai manfaat yang diperoleh pada kajian ini dapat saja berubah pada masa yang akan datang, karena adanya perubahan jenis pemanfaatan, terutama nilai manfaat langsung yang perhitungannya atas dasar pemanfaatan ekstraktif sumberdaya hayati yang berlangsung di lokasi penelitian sampai saat ini.

 

F.   Evaluasi kebijakan pengelolaan sumberdaya mangrove

Pengelolaan sumberdaya hutan mangrove di Kelurahan Mangunharjo digunakan sebagai lahan pertambakan yang masih produkif seluas 75 Ha. Akibat dari konversi menjadi lahan pertambakan tersebut, terjadi pengurangan luas kawasan mangrove yang berdampak pada penurunan nilai-nilai produk manfaat langsung, manfat tidak langsung, manfaat pilihan, dan manfaat keberadaan yang berhubungan dengan luasan kawasan mangrove. Penurunan nilai ini disebabkan adanya biaya kehilangan dari masing-masing manfaat tersebut akibat konversi kawasan mangrove menjadi tambak.

Dari hasil perhitungan dengan analisis biaya dan manfaat diperoleh Net Present Value (NPV) atau manfaat bersih proyek hutan mangrove Kelurahan Mangunharjo sebagai lahan pertambakan pada discount factor 15% selama kurun waktu 10 tahun negatif sebesar Rp15.205.361.814,00 yang berarti bahwa pemanfaatan lahan kawasan mangrove sebagai pertambakan tidak layak untuk dilaksanakan.

 

KESIMPULAN

 

1.    Pemanfaatan sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo yang secara langsung dapat dirasakan oleh masyarakat diperoleh 4 jenis pemanfaatan, yaitu: (1) pemanfaatan perikanan tangkap ikan belanak, (2) pemanfaatan perikanan budidaya/tambak ikan bandeng dan udang windu, (3) pemanfaatan bibit mangrove, dan (4) pemanfaatan buah mangrove.

2.    Nilai Ekonomi Total (TEV) sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo saat ini seluas 7,1 Ha untuk ekosistem mangrove dan 75 Ha untuk tambak yang masih produktif sebesar Rp1.398.787.140,00 per tahun atau rata-rata Rp160.480.161 per Ha per tahun.

3.    Nilai manfaat sumberdaya mangrove di Kelurahan Mangunharjo tertinggi yaitu manfaat tidak langsung, memiliki persentase paling besar dibandingkan dengan manfaat lainnya. Manfaat tidak langsung 63,77% dengan nilai sebesar Rp892.000.000,00 per tahun (Rp125.633.803,00 per Ha per tahun), manfaat langsung 33,30% dengan nilai sebesar Rp465.739.500,00 per tahun (Rp29.065.000,00 per Ha per tahun), manfaat keberadaan 2,87% dengan nilai sebesar Rp40.136.000,00 per tahun (Rp5.652.958,00 per Ha per tahun), dan manfaat pilihan 0,07% dengan nilai sebesar Rp911.640,00 per tahun (Rp128.400,00 per Ha per tahun).

 

 

SARAN

 

a.    Saran Praktis

1.    Bagi Pemerintah:

·      Perlu adanya program rehabilitasi dan pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan dan sosialisasi manfaat ekosistem mangrove bagi masyarakat, baik manfaat ekonomis maupun ekologis.

·      Perlu ditingkatkan keterpaduan kelembagaan dan penguatan perundang-undangan (PERDA) didalam pengelolaan pemanfaatan ekosistem mangrove.

·      Perlu adanya penetapan kawasan konservasi khususnya di Kelurahan Mangunharjo untuk melindungi sumberdaya mangrove di masa yang akan datang.

2.    Bagi Masyarakat di Kelurahan Mangunharjo:

·      Pemanfaatan ekosistem mangrove perlu memperhatikan keseimbangan ekologi yang berkelanjutan.

·      Dalam rangka meningkatkan nilai ekonomi sumberdaya hutan mangrove di Kelurahan Mangunharjo, keberadaan tambak tetap diperlukan. Namun mengingat daya dukung lahan terbatas, peningkatannya bukan dengan memperluas tambak, melainkan diupayakan dengan mengurangi luas tambak dan meningkatkan produktivitas dengan sistem silvofishery.

·      Aktivitas yang dapat direkomendasikan di dalam pengembangan kawasan mangrove di lokasi penelitian adalah ekowisata mangrove, selain dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, upaya konservasi juga tetap dilaksanakan secara berkelanjutan namun dengan peningkatan sarana dan prasarana pendukung yang ada.

b.    Saran Akademis

·      Perhitungan Nilai Total Manfaat Ekonomi Sumberdaya Mangrove membutuhkan kehati-hatian dalam penerapannya mengingat adanya asumsi dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini, masih dapat diperbaiki dengan pendekatan dan metode lain serta data yang lebih lengkap.

·      Perlu adanya penelitian mengenai struktur dan komposisi vegetasi ekosistem mangrove di Kelurahan Mangunharjo untuk mengetahui keanekaragaman hayatinya (biodiversity).

·      Perlu adanya penelitian mengenai tingkat kerusakan dan perubahan luasan ekosistem mangrove di Kelurahan Mangunharjo.

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Abelson, P. W, 2005. Cost Benefit Analysis and Enviromental Problems. Macquarie University, New South Wales.

Adrianto, L, 2005. Bahan Pengantar Survey Valuasi Ekonomi Sumberdaya Mangrove. Kerjasama antara Departemen Kelautan dan Perikanan, PT. Plarenco dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan-IPB, Bogor.

Dinas Kelautan dan Perikanan, 2008. Laporan Akhir Penyusunan Rencana Tata Ruang Pesisir Kota Semarang. CV. Adicipta Manunggal, Semarang.

Supriyadi, H. I, 2009. Pentingnya Valuasi Ekonomi Sumberdaya Alam Untuk Pengambil Kebijakan. Oseana XXXIV (3): 45 – 57.

Fauzi, A, 2002. Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Makalah pada Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan, Universitas Diponegoro, Semarang.

           , 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Teori dan Aplikasi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Gittinger, J.P, 2008. Analisis ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. UI-Press, Jakarta.

Maedar, F, 2008. Analisis Ekonomi Pengelolaan Mangrove di Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Paryono, T.J, Kusumastanto, T, Dahuri, R dan Bengen, D.G, 1999. Kajian Ekonomi Pengelolaan Tambak di Kawasan Mangrove Segara Anakan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Jurnal Pesisir dan Lautan Indonesia 2 (3): 8 -  6.

Romimotarto, K, 2001. Biologi laut: Ilmu pengetahuan tentang biota laut. Djambatan, Jakarta.

Saparinto, C, 2007. Pendayagunaan Ekosistem Mangrove Mengatasi Kerusakan Wilayah Pantai (Abrasi) Meminimalisasi Dampak Gelombang Tsunami. Effhar dan Dahara Prize, Semarang.

 

 

Komentar

Posting Komentar